Pandangan pendidikan

Aliran-aliran pendidikan adalah pemikiran-pemikiran yang membawa  pembaharuan dalam dunia pendidikan sesuai dengan perkembangan social-budaya dan iptek. Pemikiran-pemikiran terdahulu selalu ditanggapi  pro dan kontra oleh pemikiran-pemikiran berikutnya dan seterusnya. Sehingga menimbulkann pemikiran-pemikiran baru. Tenaga pendidik harus mampu mengikuti dan memahami aliran-aliran pendidikan agar dapat menangkap makna setiap gerak dinamika dari pemikiran-pemikiran pendidikan itu. Untuk dapat memahami gerak dinamika itu, maka tenaga pendidik perlu aspek aliran-aliran pendidikan yang dapat dipahami. Disini hanya dijelaskan 2 aliran pendidikan yaitu Aliran pendidikan klasik ( Aliran empirisme,Aliran Nativisme, Aliran Konvergensi dan Aliran Naturalisme) dan Aliran Pendidikan Pokok di Indonesia (Aliran Taman Siswa, Aliran INS Kayutaman, Muhammadiyah, dan Maarif )

Aliran-aliran klasik atau disebut aliran-aliran empirisme, nativisme, naturalisme dan konevegerensi merupakan benang-benang merah yang menghubungkan pemikiran-pemikiran pendidikan masa lalu, danliran Empirisme adalah aliran yang menganggap bahwa perkembangan manusia yang meliputi pengetahuan, keterampilan, juga sikap manusia dipengaruhi oleh lingkungan melalui panca indera baik secara langsung berinteraksi dengan dunia luarnya maupun dari proses pengolahan dalam diri dari apa yang ia  dapat secara langsung.  Tokoh perintis aliran ini adalah John Locke (1632-1704) seorang filsuf inggris yang terkenal dengan teori “tabula rasa”

Ia berpendapat:

      1. Anak lahir di dunia ini seperti kertas kosong atau sebagai meja berlapis lilin yang belum ada tulisan di atasnya.

      2. Anak yang baru lahir tidak membawa potensi/kemampuan.

      3.  Perkembangan kepribadian anak sangat ditentukan oleh faktor lingkungan  yang disengaja/dikondisikan dinamakan pendidikan.

                  Jadi menurut John Locke bahwa  manusia di lahirkan dalam keadaan kosong tanpa membawa potensi/kemamampuan apapun dan harus dikembangkan lewat lingkungan pendidikan, dalam aliran ini menganggap bahwa perkembangan manusia bukan ditentukan oleh lingkungan tapi sudah dibawa sejak ia lahir.

Keberhasilan yang ia dapat bukanlah dari lingkungan tapi dalam diri individu itu sendiri. Tokoh dengan teori ini seorang yang berkebangsaan jerman bernama Schopenheuer (1788-1880). Lewat karyanya “The World as Will and Representation”. Ia berpandangan bahwa Pembawaanlah yang maha kuasa, yang menentukan perkembangan anak. Lingkungan sama sekali tidak bisa mempengaruhi, apalagi membentuk kepribadian anak.

Aliran ini merupakan campuran dari aliran empirisme dan nativisme. Perkembangan anak sangat di pengaruhi oleh 2 factor yaitu lingkungan dan pembawaan anak sejak lahir. Jika pembawaan tidak didukung dengan lingkungan maka perkembangan anak akan kurang baik begitupun sebaliknya.

Seorang anak memiliki pembawaan baik sejak ia lahir jika tidak di dukung dengan lingkungan  akan sia-sia. Contoh seorang anak memiliki bakat melukis tapi lingkungan dimana ia tinggal tidak dapat mendukung kemampuan(bakat) yang ia miliki maka bakat yang ia miliki tidak akan bisa berkembang secara optimal, begitupun sebaliknya jika seorang anak tidak memiliki bakat menyanyi tapi lingkungan ingin anak itu bisa menyanyi maka kemampuan anak tersebut tidak akan diraih dengan maksimal. Tokoh perintis aliran ini adalah William Stern (1871-1939) ia berpendapat bahwa pendidikan tergantung pada pembawaan dan lingkungan seperti dua garis yang menuju pada satu titik. Karena itu teori W. Stern disebut teori konvergensi (konvergen artinya memusat kesatu titik). Jadi menurut teori konvergensi :

·         Pendidikan mungkin untuk dilaksanakan.

·         Pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan kepada anak didik untuk mengembangkan potensi yang baik dan mencegah berkembangnya potensi yang kurang baik.

·         Yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan   lingkungan.

            Aliran Pendidikan Taman SiswaAliran ini didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara pada tanggal 3 Juli 1922, Taman Siswa memiliki asas-asas sebagai berikut :

·         Asas merdeka untuk mengatur dirinya sendiri

·         Asas kebudayaan (kebudayaan Indonesia)

·         Asas kerakyatan

·         Asas kekuatan sendiri (berdikari)

·         Asas berhamba kepada anak

Dasar-dasar Pendidikan yang dianut Taman Siswa  adalah Panca Dharma yaitu:

·         Kemanusiaan

Cinta kasih terhadap sesama manusia dan semua mahluk ciptaan tuhan.

·         Kodrat hidup

Untuk pemeliharaan dan kemajuan hidup sehingga manusia hidup selamat dan bahagia.

·         Kebangsaan

Tidak boleh menyombongkan bangsa sendiri, tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum.

·         Kebudayaan

Kebudayaan nasional harus tetap dipelihara

·         Kemerdekaan/kebebasan

Apabila anak tidak diberikan kemerdekaan maka akan mennghambat kemajuannya.

Taman Siswa terkenal dengan semboyan yang dimilikinya yaitu :

·         Ing ngarsa sung tuladha

Memberikan teladan kepada peserta didik ketika berada di depan

·         Ing madya mangun karsa

Membangun semangat kepada peserta didik ketika berada di tengah.

·         Tut wuri handayani

Mengarahkan peserta didik agar tidak salah bertindak ketika berada di belakang.

Peserta didik mengadakan pemahaman eksperimental dari fakta-fakta yang ada, memberikan interprestasi yang bersifat menyeluruh serta memahaminya dalam konteks kehidupan. Filsafat yang melandasinya dalah filsafat rekonstruksionisme yang merupakan variasi dari progresivisme, yang menginginkan kondisi manusia pada umumnya harus diperbaiki (Callahan, 1983). Dengan mengkontruksi kembali kehidupan manusia secara total, dengan merombak tata susunan masyarakat lama dan membangun tata susunan hidup yang baru melalui lembaga dan proses pendidikan.

0 0 vote
Article Rating
Spread the love
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments