Perkembangan Sains dan Teknologi tak akan ada habisnya untuk diperbincangkan dari masa ke masa. Selalu ada hal baru yang dapat menjadi topik hangat untuk diperbincangkan. Tentu tak semua perkembangan teknologi dapat selesai dalam satu pembahasan saja. Tulisan ini akan fokus membahas perkembangan teknologi dibidang informasi serta dampak yang ditimbulkannya, pro dan kontra terhadap penggunaan teknologi informasi, serta teknologi informasi sebagai gaya hidup peserta didik.

Pertama, perlu disadari bahwa produsen serta pengawal perkembangan teknologi dewasa ini adalah negara barat dan kita adalah konsumen. Sebagai produsen dan pengawal perkembangan sains dan teknologi, negara-negara barat tentu memiliki motif bisnis dalam setiap produk teknologi yang dihasilkan. Tidak dipungkiri selain orientasi profit, ada tujuan lain yang hendak dicapai. Terlepas dari semua pro-kontra, opini publik, serta analisis ilmiah mengenai berbagai motif yang mendasari, perlu adanya measurment untuk mengukur pemanfaatan teknologi yang tepat guna, utamanya di lembaga pendidikan/sekolah terhadap peserta didik sebagai investasi masa depan bangsa.

Kedua, tidak dipungkiri bahwa penggunaan teknologi di lembaga pendidikan sekolah mempermudah dalam menjelaskan penyampaian materi. Mengatasi ruang, waktu, dan panca indera tanpa harus bertemu dengan guru. Melalui teknologi, kejadian di masa lalu dibuat dalam bentuk film sehingga siswa dapat memahami dan menikmati hasilnya. Penggunaan media yang bervariasi untuk meningkatkan minat dan membuat siswa lebih aktif dalam pembelajaran. Internet lebih praktis dan informasi lebih banyak. Teknologi (internet) dapat di akses dimana-mana (fleksibel). Teknologi memudahkan aktivitas / kegiatan siswa dan lebih menghemat waktu. Oleh karena itu juga merupakan hal yang urgen untuk mengidentifikasi pengaruh negatif yang ditimbulkan seperti adanya penyalahgunaan teknologi, misalnya menyontek dan plagiarism, guru dan siswa kurang berinteraksi dengan lingkungannya, siswa lebih cenderung individualis dan pasif.

Penggunaan teknologi lebih cenderung menggunakan satu gaya belajar. Keterampilan dan kreatifitas siswa terbatas serta tidak berdasarkan pengalaman belajar. Teknologi telah memanjakan siswa sehingga membuat siswa malas dan terlalu bergantung pada teknologi. Hal itulah yang menjadi salah satu tantangan besar Pendidikan Islam di Zaman Now.

Solusi dari problematika tersebut ialah pendidikan Islam harus dikembalikan kepada fitrahnya dengan tanpa mengesampingkan dimensi-dimensi penting lainnya seperti penggunaan teknologi dalam institusi pendidikan. Hakikat pendidikan Islam ialah untuk membimbing anak didik dalam perkembangan dirinya, baik jasmani maupun rohani menuju terbentuknya kepribadian yang utama pada anak didik nantinya yang didasarkan pada hukum-hukum Islam.

Sekolah Islam Terpadu (SIT) sebagai sekolah yang menerapkan pendekatan penyelenggaraan dengan memadukan pendidikan umum dan pendidikan agama sudah menjadi wadah yang tepat untuk menjawab tantangan pendidikan Islam dewasa ini. Diharapkan perkembangan sistem serta penerapannya semakin membaik disertai dengan kualias pendidik yang berkualifikasi dan tahan uji. Peningkatan kualitas atau mutu saat ini menjadi fokus sekolah Islam terpadu (SIT). Dengan mutu yang bagus, diyakini sekolah ini mampu bersaing dengan sekolah lainnya. Karena itu, ada standar mutu yang dirancang untuk mencapai tujuan tersebut. standar mutu yang dibuat sendiri menjadi tambahan standar yang sudah ditetapkan pemerintah. Hal itulah yang menjadi ciri khas SIT.

Adapun ciri khas tersebut adalah SIT mempunyai keunggulan yang melebihi sekolah lainnya. pada standar isi SIT mencoba mengintegrasikan nilai-nilai Islam. Selain itu, dalam standar kelulusan juga ada penilaian terhadap aqidah siswa. Siswa tak hanya harus menguasai mata pelajaran akan tetapi mereka dituntut pula mempunyai wawasan keislaman yang kuat, termasuk menguasai Alquran dengan menghafal Alquran 2 juz untuk Siswa lulusan sekolah dasar, 6 juz untuk siswa sekolah menengah pertama (SMP) dan 10 sampai dengan 15 juz untuk  siswa sekolah menengah atas. Tak sebatas itu, para siswa SIT memperoleh bekal kemampuan berbahasa Indonesia, Inggris, dan Arab.

Ciri khas lain yang harus dimiliki SIT adalah filosofi pendidikan Islam. Ini tercermin di lingkungan sekolah yang menunjang praktik keislaman. Ada integrasi nilai Islam dan materi umum. Para guru mempunyai kepribadian Islam agar menjadi teladan siswanya.

Selain menjadi tugas sekolah, pendidikan anak juga harus bersinergi dengan motivasi kehidupan mereka dalam keluarga, masyarakat, dan pemerintah sebagai penyokong lembaga pendidikan. Orang tua harus selalu mengawasi anak-anak mereka dalam memanfaatkan teknologi informasi baik berupa internet, televisi, ataupun handphone agar terhindar dari dampak negatif kemajuan teknologi informasi (TI). Sebagai generasi muda dan penerus bangsa harus bisa melestarikan kebudayaan bangsa kita yang sekarang semakin terkikis oleh budaya bangsa lain akibat kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Dan memfilter budaya-budaya negatif yang datang melalui teknologi informasi.

Selain itu, sebaiknya pemerintah, melalui Departemen Komunikasi dan Informasi dapat membuat suatu kebijakan yang dapat mengontrol penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi supaya tidak berdampak negatif terhadap kebudayaan bangsa kita yang didalamnya juga terdapat peserta didik. Alternatif lain yang dapat di tempuh untuk melestarikan kebudayaan bangsa kita adalah melalui perancangan Search Engine yang content didalamnya memuat budaya-budaya seluruh daerah di Indonesia. Dan Search Engine tersebut harus di instalasikan di seluruh sekolah di Indonesia atau bisa di unduh secara gratis. Dengan demikian setidaknya siswa, mahasiswa, maupun masyarakat luas bisa mengenal bahkan melestarikan kebudayaan bangsa kita.

Perkembangan teknologi informasi membawa perubahan dalam kehidupan budaya kita, khususnya bagi generasi muda penerus bangsa. Oleh sebab itu, maka perkembangan teknologi informasi ini untuk dimanfaatkan semaksimal mungkin dan tetap diawasi peggunaannya, sehingga para generasi muda tidak terjerumus pada efek negatif teknologi informasi yang pada akhirnya merusak budaya generasi muda Indonesia.

Untuk mewujudkan tujuan pendidikan islam di era kemajuan teknologi informasi selain peran penting dari tiga komponen pendukung harus bersinergi yaitu, keluarga sebagai basic education, sekolah sebagai value grouth dan lingkungan atau envieronment, sebagai bentuk nyata dari aplkasi nilai dan norma yang talah dibangun dalam diri setiap anak. Dibutuhkan sekolah Islam yang berintegrasi dengan kemajuan teknologi untuk menjawab tantangan pendidikan Islam di era global.

DAFTAR PUSTAKA

  • Muhammad, Rifa’ie, sosiologi pendidikan “struktur dan interaksi sosial dalam institusi pendidikan”, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media 2011.
  • Sukiman, Pengembangan Media Pembelajaran, Yogyakarta: Pedagogia 2012.
  • Ahmad, Barizi, Pendidikan Integraif  “Akar Tradisi Dan Intergrasi Keilmuan Pendidikan Islam”, Malang; UIN Maliki Press 2011.
  •  
Spread the love

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of